SGRO pasca tender offer

Kejadian di mana saham disuspensi (dihentikan perdagangannya) oleh bursa karena masalah free float yang terlalu kecil (biasanya akibat pengambilalihan atau tender offer) memang cukup sering terjadi di BEI. Saham-saham ini biasanya masuk dalam kategori "saham tertidur" karena likuiditasnya mati.

​Berikut adalah beberapa contoh saham yang pernah atau sedang mengalami suspensi lama karena masalah kepemilikan publik yang minim:

​1. PT Aqua Golden Mississippi Tbk (AQUA)
​Ini adalah kasus paling legendaris. Danone melakukan tender offer untuk memprivatisasi Aqua. Karena jumlah saham publik yang tersisa sangat sedikit (di bawah 6%), saham ini disuspensi dalam waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) sebelum akhirnya resmi delisting (keluar dari bursa) dan menjadi perusahaan tertutup.

​2. PT Sony Indonesia (SONI) — Dulu
​Dahulu Sony sempat melantai di bursa, namun karena kepemilikan publik yang sangat kecil dan tidak memenuhi syarat likuiditas, sahamnya disuspensi lama sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk go private.

​3. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) — Kasus 2015
​Sebelum melakukan Rights Issue besar-besaran pada 2015, HMSP pernah terancam delisting karena free float-nya hanya sekitar 0,18% setelah diakuisisi Philip Morris. Namun, berbeda dengan kasus yang berujung go private, HMSP memilih untuk melakukan aksi korporasi melepas saham ke publik agar tetap bisa melantai di bursa.

​4. PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT)
​Saham ini pernah mengalami suspensi yang cukup lama. Salah satu faktor yang sering menghambat pembukaan suspensi saham-saham seperti ini adalah kewajiban untuk memenuhi syarat minimal free float 7,5% sesuai Peraturan Bursa No. I-A.

​5. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
​GEMS pernah disuspensi cukup lama (sejak 2018 hingga 2021) karena masalah free float yang tidak memenuhi syarat 7,5%. Perdagangannya baru dibuka kembali setelah mereka melakukan aksi korporasi untuk menyebar kembali sahamnya ke publik.

​Kenapa SGRO (Prime Agri Resources) Berisiko?
​Berkaca dari kasus-kasus di atas, posisi SGRO saat ini sangat rawan karena:
​Potensi Suspensi: BEI bisa memberikan sanksi suspensi jika dalam jangka waktu tertentu perusahaan tidak mampu menaikkan kembali free float-nya ke level 7,5%.

​Risiko Likuiditas: Dengan free float hanya 1,29%, sangat sulit bagi investor retail untuk keluar-masuk dengan volume besar tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
​Force Delisting: Jika perusahaan tidak mau melakukan re-float (melepas saham kembali ke publik), bursa bisa memaksa mereka untuk keluar (delisting), dan biasanya ini didahului oleh proses go private di mana pengendali wajib membeli sisa saham di harga yang ditentukan.

​Jika Anda melihat saham dengan free float 1%an, biasanya pilihannya hanya dua bagi pengendali: menambah saham publik (seperti HMSP/GEMS) atau beli sisa saham lalu keluar bursa (seperti AQUA).

Salah satu manajemen risiko yang harus dicermati, tanyakan kepada diri:

Lebih besar mana risk:reward nya?

Reward » tender offer lagi dengan harga tinggi, dapat keuntungan capital gain dari kenaikan harga saham.

Risk » harga bisa dibuat lebih turun lagi, di suspensi bertahun-tahun jika tidak kunjung go privat ataupun right issue, semakin tidak liquid dan susah dijual.

Kesimpulan = risk ≥ reward

Posting Komentar

Tulis Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama